Perseteruan Cicak Vs Buaya : TIDAK PENTING

CICAKSebagai warga negara yang telanjur melek dengan berbagai media informasi, baik koran, televisi atau internet, setiap hari dalam waktu 1-2 bulan terakhir harus dicekoki informasi sampah yang sama sekali tidak mendidik.  Sebenarnya bukan kali ini saja, tetapi sudah sering kejadian yang settingnya hampir sama seperti ini berulang untuk mengobrak-abrik nalar kita.  Untungnya kita termasuk masyarakat yang dikarunia daya ingat yang rendah, sehingga memori-memori itu hanya mampir sesaat yang selanjutnya kita bisa melupakannya sama sekali.

Informasi sampah yang saya maksudkan di atas adalah tentang “pertengkaran” lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan POLRI, yang kemudian diistilahkan sebagai permusuhan antara cicak dan buaya.  Dalam tahap berikutnya “perseteruan” dua lembaga ini melebar dengan melibatkan lembaga Kejaksaan Agung.  Dalam hal tersebut, berita tentang “perkelaian” KPK, POLRI dan Kejaksaan Agung saya sebut sebagai informasi sampah karena tidak sedikitpun memberikan kecerdasan serta nilai tambah bagi kita.  Justru sebaliknya, “perseteruan” itu – terlepas lembaga mana yang benar – telah memberikan mimpi buruk bagi kita yang sedang belajar untuk patuh hukum.  Lembaga yang dibiayai dari keringat rakyat untuk mengawal hukum, justru semakin menghadirkan rasa pesimis dan apriori bagi keberlangsungan tata kelola pemerintahan yang bersih.

Baca lebih lanjut

Bencana dan Bencana …

BENCANAInna lillahi wainna illahirojiuun

Belum genap satu bulan sejak bencana gempa bumi yang berpusat di Tasikmalaya, Jawa Barat (2/9/2009), kembali kita dihadapkan pada satu bencana gempa bumi baru yang terjadi di Padang Pariaman, Sumatera Barat (30/2/2009) yang efeknya hingga di Sumatera Utara, Riau dan Jambi.
Bagaimanapun bencana yang terjadi ini kembali mengulang rasa prihatin dan empati kita, karena keluarga, teman atau hanya sekadar saudara satu bangsa harus berpasrah diri tanpa persiapan dan merelakan sesuatu tanpa kekuatan untuk menolaknya. Bencana telah merenggut nyawa, harta dan kebahagiaan dari sebagian keluarga, teman dan saudara-saudara kita.

Para peneliti dan ilmuwan boleh melakukan analisis dan berargumentasi secara ilmiah tentang penyebab dan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu gempa. Pemerintah pun kadang – meski lebih sering tidak melakukannya secara kontinu – memberikan berbagai pemahaman kepada masyarakat akan bahaya gempa dan persiapan untuk menghadapinya. Toh akhirnya, pada setiap kejadian bencana baru, kita harus mengelus dada bahwa ternyata masih jauh dari apa yang diharapkan yang telah dikerjakan untuk bisa mengendalikan atau setidaknya meminimalisir dampak bencana itu bagi masyarakat.

Pada sisi lain dari konteks kejadian bencana ini pula, kesadaran untuk tidak menafikan keberadaan Tuhan sebagai aktor dibalik seluruh kejadian – termasuk bencana dan musibah – sangat relevan untuk tidak dihilangkan meski dengan nalar ilmiah sekalipun. Analisis ilmiah yang menyebutkan pergeseran lempeng bumi sebagai salah satu penyebab gempa tektonik maupun aktivitas ekstrim gunung berapi yang bisa menyebabkan gempa vulkanik, tetap pangkalnya bermuara pada campur tangan dan kehendak dari yang menciptakan dan mengendalikan itu semua. Dan pengendali itu adalah Tuhan.
Baca lebih lanjut

Persoalan Klasik Penetapan Idul Fitri

Idul FitriDalam hari-hari menjelang hari raya Idul Fitri, kembali kita disibukkan oleh sebuah perdebatan klasik tentang kapan hari raya yang sebenarnya harus kita ikuti. Saya sebut perdebatan klasik karena memang setiap menjelang perayaan hari raya Islam yang mengkaitkan langsung dengan penanggalan selalu saja akan terjadi persoalan. Perayaan Islam yang sering memicu persoalan adalah semisal penetapan awal Ramadhan, penetapan hari raya Idul Fitri dan penetapan hari raya Idul Adha.

Indonesia memiliki aliran/organisasi Keislaman yang begitu banyak, dimana setiap aliran Islam tersebut memiliki prinsip-prinsip ajaran yang kadang berbeda satu sama lain. Tentu perbedaan yang saya maksudkan bukan terletak pada perbedaan ideologi dasar keislamannya (akidah Islam). Nahdlatul Ulama (NU) memiliki prinsip ajaran yang dalam hal tertentu berbeda dengan Muhammadiyah, Persis atau organisasi Islam lainnya. Pun demikian dalam hal yang berkaitan dengan penetapan hari raya keislaman, berawal dari perbedaan prinsip ajaran masing-masing organisasi Islam sering kemudian mengakibatkan perbedaan dalam pelaksanaan hari raya Islam tersebut. Dan karena perbedaan itu pula, berkali-kali kita harus mengadakan hari raya Islam yang tidak bersamaan dengan umat Islam lainnya.
Baca lebih lanjut

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H

kartu lebaran copy

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

selamat puasa

Acara Dzikir & Doa Akbar

PEMBERITAHUAN !!!

Sehubungan adanya perubahan teknis dari Pengisi Acara (Tim Ustadz H.M. Hariyono) maka diberitahukan, bahwa acara “Dzikir & Doa Akbar Untuk Bangsaku” yang sedianya akan dilaksanakan pada :  Hari Ahad, Tanggal 16 Agustus 2009 (25 Sya’ban 1430 H), bertempat di Masjid Istiqlal, terpaksa diundur pelaksanaannya sampai pemberitahuan berikutnya.

Kepada para undangan, jamaah majlis taklim, pihak sponsor, dan masyarakat umum yang sedianya akan menghadiri, kami mohon maaf atas pengunduran ini.

Atas nama penyelenggara,

Al-Maghfiroh Organizer

Dzikir dan Doa Akbar Untuk Bangsaku

iklan internet 17 agust copy