Tentang Aku

Aku…32 tahun lalu bukan lah siapa-siapa, juga mungkin sampai saat ini.  Dari dusun kecil di selatan Pekalongan, aku terlahir dari orang tua yang juga bukan siapa-siapa.

Anda tahu kan atau setidaknya pernah denger dengan nama kota Pekalongan ?   Yah Pekalongan kota yang terkenal dengan batiknya.  Yah Pekalongan yang terkenal dengan santri-santrinya yang setiap sore kita bisa melihat banyak orang bersepeda ontel atau berjalan kaki berkeliling kota hanya dengan hanya dengan berpakaian sarung. Klasik. Yah tapi itu dulu.  Pekalongan juga yang anda bisa dengar sebagai kota pelabuhan ikan, karena berada persis di pantai utara Jawa Tengah yang juga menghasilkan ikan yang kita makan.

Orang tuaku?  Benar, dia bukan siapa-siapa, tapi bagi aku dia orang tua terbaik bagi aku, terutama tentu my mother.  I Love U mama.  Dia begitu kuat dan tabah meski menghadapi banyak masalah.  Yah masalah, meski bukan karena masalah kemiskinan kami, karena meski aku bukan dari keluarga kaya tetapi juga bukan dari keluarga yang sangat miskin.  Tapi lebih karena masalah… Ah sudahlah.

Aku kecil, bermain layaknya anak-anak lain dari suatu kampung kecil.  Main petak umpet, main karet, bermain mobil-mobilan dari kulit jeruk dan kayu kapok randu yang didesain layaknya mobil, dan yah banyak lagi permainan yang tentu sangat murah karena tidak perlu menghabiskan uang hanya sekedar untuk bermain atau mendapatkan mainan.

Saya bisa disebut agak telat masuk SD, yaitu baru masuk SD pada umur 7 tahun.  Saya ingat ketika ibuku mendaftarkan aku pada umur 6 tahun, Kepala Sekolah menolak dengan alasan belum cukup umur.  Tapi setelah saya masuk SMP dan SMA bahkan kemudian di bangku kuliah saya baru tahu ternyata banyak teman-teman yang bisa masuk SD pada umur 6 tahun.  Tapi ya sudahlah, yang pasti saya bisa menyelesaikan SD dengan sangat baik.

SMP saya lalui di kota kecamatan, sekitar 7 kilometer dari kampungku.  Sepeda ontel menjadi sahabat paling setia yang membantuku pergi dan pulang dari sekolah.  Cukup melelahkan memang. Setiap habis Subuh, aku harus sudah siap-siap berangkat sambil menunggu teman-teman yang juga ke sekolah dengan sepeda ontel.  Pada saat itu murid perempuan lebih memilih untuk kost dibandingkan murid laki-laki seperti saya.  Dengan pertimbangan akan menghadapi ujian kelulusan (pada saat itu bernama Ebtanas, Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional), saya dan 4 orang teman lain tinggal di SMP bersama guru-guru yang juga tinggal di situ.  Banyak hal yang menarik saat tinggal dengan guru-guru itu.  Belanja dapur, memasak makanan, mencuci pakaian dan kegiatan lain dilakukan bersama.  Sekali-kali pergi ke hutan untuk berburu tupai atau burung tekukur.  Wah sangat menyenangkan.  Sama seperti di SD, SMP saya lewati dengan nilai yang sangat baik juga.

Sekolah di SMA aku pindah ke kota kecamatan lain, yang jarak dari rumahku sekitar 12 kilometer.  Tak banyak yang menarik di sini, kecuali ketika melihat banyak teman-teman yang tawuran dengan sekolah swasta, sehingga untuk berjaga-jaga saya bersama 3 teman lain harus belajar bela diri yang juga saat itu diberi bekal ilmu-ilmu mistik yang dianggap bisa buat kebal badan kita dari senjata.  Kalau diingat sangat lucu, karena saya harus belajar bela diri secara kilat dan meminta ilmu kebal sampai di Kota Moga (sebuah kota kecamatan di Pemalang yang berada di lereng Gunung Selamet).  Sampai kelas 3 meskipun saya ambil kelas Fisika (pada saat ini mungkin kelas IPA) saya tetap  belum begitu serius untuk belajar, karena toh saya masih mampu meraih ranking dalam 10 besar.  Keragu-raguan mulai muncul saat aku menentukan tawaran yang diberikan sekolah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dengan tanpa melalui test.  Dari 5 tawaran PT kepada saya, yaitu IPB, Undip, UNS, UGM dan UI, sama sekali tidak ada yang menarik buat saya.   Entahlah yang saya tahu kemudian ada Guru Bimbingan Karier dan seorang kakak kelas yang sudah di IPB yang saat itu ke SMA ku untuk berkampanye tentang enaknya di IPB.  Katanya setelah tingkat 3 kita sudah dapat mencari uang.  Tapi bukan alasan itu yang akhirnya menuntun saya mengisi formulir IPB.

Pada saat saya diberi tahu Guru BK bahwa saya diterima di IPB, maka bukannya saya merasa senang, karena justru sebaliknya saya begitu gundah, dilematis dan banyak hal bercampur aduk yang menyebabkan hampir 1 minggu saya belum memutuskan mengambil tawaran IPB itu.

Nanti sambung lagi…hari ini saya mau ke Sukabumi melihat kebun jati saya yang kata pegawai disana daun jatinya dimakan ulat.

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.