Inna lillahi wainna illahirojiuun
Belum genap satu bulan sejak bencana gempa bumi yang berpusat di Tasikmalaya, Jawa Barat (2/9/2009), kembali kita dihadapkan pada satu bencana gempa bumi baru yang terjadi di Padang Pariaman, Sumatera Barat (30/2/2009) yang efeknya hingga di Sumatera Utara, Riau dan Jambi.
Bagaimanapun bencana yang terjadi ini kembali mengulang rasa prihatin dan empati kita, karena keluarga, teman atau hanya sekadar saudara satu bangsa harus berpasrah diri tanpa persiapan dan merelakan sesuatu tanpa kekuatan untuk menolaknya. Bencana telah merenggut nyawa, harta dan kebahagiaan dari sebagian keluarga, teman dan saudara-saudara kita.
Para peneliti dan ilmuwan boleh melakukan analisis dan berargumentasi secara ilmiah tentang penyebab dan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu gempa. Pemerintah pun kadang – meski lebih sering tidak melakukannya secara kontinu – memberikan berbagai pemahaman kepada masyarakat akan bahaya gempa dan persiapan untuk menghadapinya. Toh akhirnya, pada setiap kejadian bencana baru, kita harus mengelus dada bahwa ternyata masih jauh dari apa yang diharapkan yang telah dikerjakan untuk bisa mengendalikan atau setidaknya meminimalisir dampak bencana itu bagi masyarakat.
Pada sisi lain dari konteks kejadian bencana ini pula, kesadaran untuk tidak menafikan keberadaan Tuhan sebagai aktor dibalik seluruh kejadian – termasuk bencana dan musibah – sangat relevan untuk tidak dihilangkan meski dengan nalar ilmiah sekalipun. Analisis ilmiah yang menyebutkan pergeseran lempeng bumi sebagai salah satu penyebab gempa tektonik maupun aktivitas ekstrim gunung berapi yang bisa menyebabkan gempa vulkanik, tetap pangkalnya bermuara pada campur tangan dan kehendak dari yang menciptakan dan mengendalikan itu semua. Dan pengendali itu adalah Tuhan.
Persoalannya adalah pada saat apa kita tahu Tuhan menghendaki adanya bencana untuk diberikan pada suatu kaum ?
Kita sering melakukan vonis bahwa bencana yang terjadi pada daerah tertentu merupakan salah satu bentuk ujian dan bukan azab, dan dalam kondisi lain berlaku sebaliknya. Padahal keduanya, ujian maupun azab adalah perangkat yang menjadi prerogratif Tuhan yang diberlakukan dengan tujuan berbeda. Dalam satu ayat di Al Quran, Tuhan akan memberikan azab untuk umatnya yang kufur akan nikmat yang telah Dia berikan dan juga pembangkangan-pembangkanga
Terakhir, mudah-mudahan apapun bencana yang menimpa keluarga, teman dan saudara-saudara kita saat ini adalah bentuk pengujian Tuhan bagi hambanya untuk masuk dalam tingkat keimanan yang lebih baik, dan mereka bisa lebih sabar menerimanya. Dan tidak akan ada lagi bencana-bencana lain yang menimpa kita. Amiin.
Semuanya datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Wallahu ‘alam bish showabb.
Filed under: Keislaman, Review Ditandai: | 7.6 scala richter, bantuan gempa, bencana, gempa bumi, gempa bumi sumatera barat, korban gempa, padang pariaman, sumatera barat



setuju ….. tobat… tobat …
silahkan ke blog saya richocean ttg “2009 3009 ANGKA Gempa PADANG PARIAMAN. 2009 1010 ANGKA Gempa Tsunami ACEH?” dan “2009 0110 Pagi ini Gempa Bengkulu dan Jambi Menyusul Gempa Padang” dan “Selama 17 jam, 3x Gempa PADANG Sumatra Barat”
atau blog saya lainnya
http://richmountain.wordpress.com
salam …