Persoalan Klasik Penetapan Idul Fitri

Idul FitriDalam hari-hari menjelang hari raya Idul Fitri, kembali kita disibukkan oleh sebuah perdebatan klasik tentang kapan hari raya yang sebenarnya harus kita ikuti. Saya sebut perdebatan klasik karena memang setiap menjelang perayaan hari raya Islam yang mengkaitkan langsung dengan penanggalan selalu saja akan terjadi persoalan. Perayaan Islam yang sering memicu persoalan adalah semisal penetapan awal Ramadhan, penetapan hari raya Idul Fitri dan penetapan hari raya Idul Adha.

Indonesia memiliki aliran/organisasi Keislaman yang begitu banyak, dimana setiap aliran Islam tersebut memiliki prinsip-prinsip ajaran yang kadang berbeda satu sama lain. Tentu perbedaan yang saya maksudkan bukan terletak pada perbedaan ideologi dasar keislamannya (akidah Islam). Nahdlatul Ulama (NU) memiliki prinsip ajaran yang dalam hal tertentu berbeda dengan Muhammadiyah, Persis atau organisasi Islam lainnya. Pun demikian dalam hal yang berkaitan dengan penetapan hari raya keislaman, berawal dari perbedaan prinsip ajaran masing-masing organisasi Islam sering kemudian mengakibatkan perbedaan dalam pelaksanaan hari raya Islam tersebut. Dan karena perbedaan itu pula, berkali-kali kita harus mengadakan hari raya Islam yang tidak bersamaan dengan umat Islam lainnya.
Dalam kasus penetapan hari raya Idul Fitri tahun 1430 H kali ini, jauh-jauh hari Muhammadiyah telah menetapkan pelaksanaan hari raya adalah pada tanggal 20 September 2009. Penetapan lebih awal yang dilakukan Muhammadiyah tentu dapat dimaklumi karena prinsip dasar penetapan akhir atau awal bulan sebagai rujukan penetapan hari raya Idul Fitri yang dilakukan Muhammadiyah menggunakan perhitungan (hisab). Sementara NU dan beberapa organisasi lain, selain melakukan perhitungan (hisab) seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah juga masih harus melakukan rukyat (melihat bulan dengan mata telanjang atau dengan peralatan yang ada). Artinya adalah bahwa NU tidak akan serta merta menetapkan hari raya pada tanggal tertentu – meskipun hasil hisab sudah menghasilkan tanggal tertentu – sebelum dilakukan rukyat sebagai penegas atas hisab yang telah dilakukan. Tentu ada pertanyaan, apakah antara hisab dan rukyat ada ketidaksinkronan sehingga sering menghasilkan tanggal yang berbeda? Tentu seharusnya tidak berbeda, tetapi ada hal-hal tertentu bahwa pelaksanaan hisab kadang terjadi kesalahan (error) dalam perhitungannya, juga rukyat tidak dapat berjalan dengan sempurna jika kondisi cuaca pada saat tersebut sedang buruk sehingga menutup pandangan terhadap keberadaan bulan.

Dalam konteks di atas, tentu dengan pegangan prinsip yang tidak sama, maka perbedaan yang ada seharusnya bukan suatu hal yang sangat fundamental untuk terjadinya perselisihan. Bahkan pemaksaan untuk terjadinya kesamaan, atau mengarahkan kapan idul fitri pada tanggal tertentu yang dilakukan oleh orang yang tidak kompeten justru akan mendistorsi prinsip ajaran masing-masing organisasi keislaman tersebut dan mengeruhkan suasana. Jadi jangan karena persoalan politis, pelaksanaan hari raya harus disamakan. Pemerintah sebagai payung agama negara dan MUI yang berisi seluruh ulama dari masing-masing organisasi Islam di Indonesia tidak sangat efektif merubah ketetapan yang diberlakukan oleh masing-masing organisasi keislaman itu, kecuali untuk umat Islam yang tidak memiliki afiliasi (keterikatan) secara ketat dengan organisasinya.

Tentu kita berharap bahwa pelaksanaan hari raya Idul Fitri tahun ini atau tahun-tahun ke depan akan dilalui oleh umat Islam di Indonesia secara bersamaan, tetapi kalaupun harus berbeda, maka jangan sampai hal tersebut merusak harmonisasi keislaman yang ada. Klaim kebenaran atau penghakiman kesalahan tidak cukup perlu untuk dilontarkan, dan biarkan Tuhan saja yang akan menilainya.

Terakhir, kapanpun anda merayakannya “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H, Taqabalallahu Minna Wa Minkum, Minal Aidin Wal Faizien, Mohon Maaf Lahir Batin”

Satu Tanggapan

  1. Memang indonesia ini dalam segala hal belum tuntas termasuk dalam pemahaman agama,banyak orang pinter kebelinger,pengen bener sendiri hingga muncul sifat egois padahal rakyat jelata mah kapan lebaran dimulai nggak jadi masalah tuh justru para penggeda islam tidak pernah mau bersatu jadi wajar kalau kita masih dijajah oleh orang non muslim dari dulu sampai sekarang wong sulit bersatu antar sesama muslim, baru nentuin hari raya aja udah beda-beda dari jaman baheula kayanya haram kalau sama.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.