Sentimen Agama dalam Kampanye Capres/Cawapres

AgamaKasus selebaran ‘gelap’ yang menyebut istri Cawapres Boediono beragama Katholik yang menyebar pada saat kampanye Capres Jusuf Kalla di Medan, saat ini telah menggelinding begitu jauh. Dua kubu pasangan Capres-Cawapres yang bersinggungan langsung dengan kasus tersebut, yaitu kubu SBY-Boediono dan JK-Wiranto telah membawa kasus tersebut semakin melebar, bahkan kemudian justru dijadikan objek kampanye untuk saling menyerang lawan politiknya.

Kubu SBY-Boediono menjadi yang pertama menyerang dengan menganggap keberadaan selebaran tersebut sebagai kampanye hitam yang dilakukan oleh kubu JK-Wiranto untuk mendiskreditkan pasangan SBY-Boediono. Di pihak lain, kubu JK-Wiranto bertahan bahwa selebaran gelap tersebut bukan dilakukan oleh kubu mereka, bahkan menganggap sebagai sebuah jebakan yang dilakukan oleh kubu SBY-Boediono. Bahwa saat ini kasus tersebut sudah mendekati titik terang siapa yang bertanggung jawab (baca detik online 29/6/2009), sehingga akan sangat mudah mengetahui siapa yang bermain dan apa motif di baliknya.

Penarikan isu agama sebagai komoditas politik praktis, seperti yang terjadi dalam kampanye Capres/Cawapres sebenarnya sudah berlangsung lama dan tidak hanya terjadi di Indonesia saja.. Amerika Serikat (AS) yang dianggap dedengkotnya demokrasi pun masih menerapkan standar ganda tentang kepercayaan agama bagi calon presidennya, seperti yang dialami Barack Obama yang disangkut pautkan dengan agama Islam sehingga perlu mengklarifikasi tentang kepercayaan dia sesungguhnya. Padahal sebagai wujud ejawantah ideologi kebebasan yang dianutnya, AS seharusnya dapat menafikan terhadap setiap peluang perbedaan agama bagi calon presidennya. Tetapi toh sentimen agama mayoritas terhadap kepercayaan minoritas tidak dapat mencairkan tentang hal tersebut.

Agaknya ini juga yang sekarang terjadi pada kampanye Capres-Cawapres di Indonesia. Bahkan kalau kita mau menengok ke belakang, pada saat pencalonan Megawati Soekarnoputri pada pemilihan Presiden tahun 2004 atau bahkan sebelumnya, isu yang berkaitan dengan agama yang dianut Megawati dan haram-halalnya wanita menjadi Presiden sudah menjadi sorotan tajam di masyarakat. Dan ini menjadi objek yang dimanfaatkan dalam setiap kampanye politik.

Pertanyaannya adalah apakah salah jika seorang istri cawapres – bahkan untuk capres dan cawapresnya sendiri – beragama selain agama yang dianut mayoritas masyarakat? Jawabannya sangat jelas jika dihubungkan dengan konstitusi negara.

Namun demikian kebebasan beragama yang menjadi salah satu ciri negara demokrasi, tidak senantiasa mengartikan bahwa masyarakat bisa menerima perbedaan agama bagi pemimpinnya. Psikologis masyarakat dengan sentimen keagamaannya ini yang kemudian dimanfaatkan sebagai komoditas politikuntuk menarik simpati pemilih, atau sebaliknya menjadi alat untuk menyerang lawan. Dalam konteks ini akan terlihat semakin kental pada negara-negara yang memiliki disparitas atau ketidakseimbangan jumlah antara pemeluk satu agama dengan agama yang lain sangat lebar. Agama mayoritas biasanya akan lebih mendikte terhadap agama minoritas sebagai bentuk sentimen religi. Dalam kadar tertentu hal ini masih sangat wajar untuk terjadi. Memang kemudian dapat diartikan negara telah melakukan bentuk paradoksial yang nyata, jika dilihat bahwa hukum positif negara yang menghendaki adanya penghormatan dan perlakuan yang sama untuk setiap agama. Bahkan untuk konteks politik ‘sekuler’ yang memisahkan antara urusan politik praktis – kenegaraan – dengan hal yang berkaitan dengan kepercayaan agama. Dalam konotasi ini pula, pertanyaan tentang posisi agama dalam kerangka politik praktis seperti yang ditanyakan oleh moderator Debat Capres-Cawapres belum lama ini sangat bias untuk dipertanyakan. Karena toh keduanya sengaja dikaburkan dalam mainstream sekuler tersebut.

Terakhir, isu agama akan senantiasa mewarnai setiap kampanye politik, karena hakekatnya agama secara langsung atau tidak sangat bersinggungan dengan dunia politik. Dan ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara lain yang kadang kondisi sosial dan tingkat pendidikan masyarakatnya sudah lebih maju. Yang paling penting adalah bagaimana menempatkan agama dalam posisi yang bijak, dan bukan sebaliknya mengekploitasinya sebagai pembenar untuk tujuan-tujuan yang justru bertolak belakang dengan nilai agama itu sendiri.

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: