Menonton acara Debat Pro-Kontra TVOne tadi malam (11/3/2009) yang mengetengahkan topik “Kontroversi Ekonomi Syariah” dengan nara sumber Andi Rahmat (Wakil Ketua Fraksi PKS), Syafii Antonio (Pemerhati dan Praktisi Ekonomi Syariah) dan didukung Mahasiswa Islam (berada pada barisan Pro), berhadapan dengan Danny Tewu (Partai Damai Sejahtera), Ikhsan Mojo (Pengamat Ekonomi Unair) dan Mahasiswa Universitas Kristen Indonesia yang berada pada barisan Kontra. Perdebatan antar nara sumber maupun antar mahasiswa (yang berada pada garis berseberangan) cukup seru dan panas, tentu dalam konteks pro dan kontra yang memang disetting oleh TVOne untuk bisa menarik pemirsa.
Dalam tulisan ini saya tidak ingin berkomentar mengenai hal yang disebut kontroversi ekonomi syariah tersebut, melainkan lebih pada ruang psikologis yang mengiringi perdebatan itu.
Kita tahu bahwa bangsa kita bangsa majemuk, plural dalam ras, etnis dan agama. Dan khusus dalam konteks agama, Islam dan Non Islam (terutama Kristen dan Katholik) selalu saja menjadi isu untuk berhadapan dan bertentangan. Kristenisasi dan Islamisasi adalah stigma akut yang selalu saja menjadi senjata untuk melegalisasi dan menginspirasi bagi seluruh bentuk perlawanan oleh kedua golongan tersebut, sehingga seolah apapun yang berbau Islam adalah tidak baik, dan sebaliknya yang bercita rasa Kristen maka perlu dihindari. Kondisi persangkaan dan kecurigaan ini yang kemudian menjadi penghalang adanya dialog yang lebih baik. Terlepas dari masalah akidah yang menjadi inti teologi masing-masing penganut agama – tentu tidak bisa dicampuradukkan – maka setiap agama tentu memiliki nilai-nilai universalitas yang pengakuannya melewati batas agama itu sendiri. Mengambil contoh korupsi, perjudian, perzinahan adalah beberapa nilai yang semua agama menyepakati sebagai sebuah ketidakbenaran. Sementara memberi makan orang yang kelaparan, membantu orang yang kesusahan atau saling bertoleransi adalah beberapa bentuk nilai yang dianggap sama kebaikannya oleh setiap agama.
Penyebutan kontroversi untuk ekonomi syariah yang oleh TVOne dijadikan perdebatan tadi malam, juga berangkat dari persangkaan negatif seperti yang saya sebut di atas. Substansi seolah menjadi tidak penting jika mengingat yang menjadi bungkusnya adalah sesuatu yang tidak disenangi. Pun demikian dengan kasus Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi yang juga membuat lelah bangsa ini untuk memperdebatkannya. Padahal diskusi bisa menjadi sederhana dan tidak perlu berbuntut kontroversi, jika setiap kita mau berpikir positif (positive thinking) dan jernih terhadap semua persoalan. Kemanfaatan dan tidak adanya pelanggaran dengan sendi norma yang kita pegang adalah esensi yang seharusnya menjadi pertimbangan paling utama untuk bersikap. Apapun yang keluar baik dari Islam ataupun Non Islam, apabila memiliki kemanfaatan untuk masyarakat dan bangsa dengan tidak keluar dari bingkai norma yang kita anut, maka perlu kita respon dengan positif juga. Apalagi dengan kondisi bangsa yang mengalami resesi akibat krisis global, maka apapun alternatif sistem ekonomi yang dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan kesejahteraan apalagi dengan kerangka pengaturan yang terpercaya, maka tidak ada salahnya kita berikan tempat.
Kehati-hatian memang diperlukan, tetapi kecurigaan dan persangkaan negatif yang berlebihan justru berakibat pemunduran peluang kita untuk berkembang.
Filed under: Keislaman, politik, Review Ditandai: | dialog agama, Islam Kristen, islamisasi, kerukunan agama, kristenisasi, toleransi agama



maka mwri kita saling hormat dan saling menghargai
Saya awam soal ekonomi, khususnya ekonomi syariah. Namun, saya sepakat dengan anda bahwa persangkaan, kecurigaan dan bahkan kebencian mestinya disingkirkan dari memori, sehingga bisa benar-benar obyektif dan adil dalam menyikapi masalah. Saya melihat bahwa begitiu banyak pihak, termasuk sebagian kelompok “Islam” sendiri yang sengaja memancing “kemarahan” umat islam. Ada kelompok yang begitu antipati terhadap Islam (Islam phobia). Padahal, mereka sama sekali tidak mengerti Islam, mereka hanya terdoktrin oleh opini-opini negatif yang memang sengaja dibangun oleh kelompok anti Islam. Ada juga kelompok intlektual Islam –yang memang dibayar—untuk menyuarakan anti syariat Islam dengan argumen yang seolah-olah rasional
Soal penerapan syariat Islam (termasuk ekonomi syariah) misalnya, sejumlah kelompok menyatakan penolakan tanpa alasan yang logis. Tidak lagi mau tahu keunggulan dan nilai manfaatnya. Bagi meraka, liberalisme, kapitalisme dan sekulerisme adalah pilihan akhir. Padahal kalau mau obyketif, liberalisme-kapitalisme telah gagal memberi keadilan dan kesejahteraan kepada masyarakat. Khusus di Indonesia, kasus “antrian” panjang yang tak jarang menimbulkan korban jiwa, karena berebut jatah zakat, infaq, daging kurban atau sekedar segelas air celupan batu “sakti” Ponari. Belum lagi, gaji buruh yang di bawah standar. Sementara kaum miskin kota dan pedagang kaki lima menjadi bulan-bulanan Satpol PP.
Para petani di desa juga tidak lepas dari penindasan dan pemiskinan para pemodal (liberalis). Tanah meraka di rampok oleh para kapitalis dan penguasa rakus dengan dalih untuk dan atas nama pembangunan. Padahal, apa pun bentuknya dan dari sektor manapun, pembangunan semestinya selalu diarahkan untuk memberi keadilan dan kesejahteraan pada rakyat, bukan sebaliknya.
Demikian pula halnya dalam hal keadilan, sudah menjadi pengetehuan umum bahwa di negeri Pancasila ini, keadailan di bawah kontrol mafia peradilan. Sehingga, tidak ada bedanya dengan hukum rimba. Yang kuat (berkuasa dan atau beruang) akan selalu tampil sebagai pemenang.
Amerika sendiri yang menjadi kiblat para pegangum liberal-kapitalis juga terbukti gagal membangun peradaban yang berprikemanusiaan. Atas nama demokrasi, leberalisme, kapitalisme dan sekulerisme, Amerika dan sekutunya bisa bertindak kontraproduktif dengan demokrasi, liberalisme dan kapitalisme. Jadi apa salahnya, jika umat Islam yang mayoritas di negeri ini menawarkan solusi Syariat Islam. Bukankah ideologi Islam sudah teruji dan sejarah mencatat kejayaannya dalam membangun peradaban yang adail dan sejahtera?
Alasan pluralisme sehingga syariat Islam tidak cocok diterapkan hanyalah merupakan ketakuatan yang berlebihan atau mungkin juga ketakutan yang dibuat-buat.
hanya tuk mengheningkan cipta..mendedah eksistensi kita tempo doeloe..sekedar tahu..menjadi manusia baru. dan kau takkan menyesalinya. INDONESIANS HAVE TO LISTEN THIS VOICE: http://demonzbabtizm.wordpress.com/welkam-guestbuk/
saya juga sangat senang karena setiap elemen masyarakat mau memperhatikan bangsa kita ini,,, baik dengan mengajukan sistem ekonomi baru atau pun dengan taktik2 baru untuk ekonomi yang lebih baik(sistem ekonomi syariat). dari sini saya bingung kenapa banyak orang menyerukan “ganti sistem kita sekarang dengan sistem syariah”. menurut saya ya oke saya setuju,,,,,, tapi apa menjamin?? sistemnya berubah apa juga orangnya bisa berubah???? coba kita ingat2 selama bangsa kita berdiri sampai sekaran nga ada presiden kita yang agamanya non muslim… tapi kq tetap nga ada perubahan?? iya nga?? malah yang memalukan lagi banyak pemimpin2 kita yang muslim yang terjeratkasus korupsi, sedang non muslim jarang terdengar,,,,,
dari situ saya mengambil kesimpulan bahwa kita nga perlu mengganti, atau misalnya walaupun perlu di ganti,,, tolong juga agar bersihkan dulu orang2 yang pikirannya korup, karena sistem tak akan menjamin orang tidak korup,,,dan basmi juga makhluk pemakan orang kaya AMROZI DKK, dan penjarakan orang2 yang melakukan diskriminasi,,,,plus hargai agama lainnnnnnn………
cina aza yang komunis bisa maju, apalagi yang kita negaranya yang religi,,,,katanya,,,,,,
Bagi saya sistem Islam adalah yang paling benar dan logis sekali.Komentar saya singkat saja orang yang berakal sehat itu pasti orang Islam dan kita bisa berpikir kalau tuhannya kristen sudah sangat tidak benar dan bagaimana dengan umatnya ????
kok jadi sara????
ckckckck
kapan Indonesia maju kalo nanggapin isu aja jawabnya sara kayak gitu