Sebagai warga negara yang telanjur melek dengan berbagai media informasi, baik koran, televisi atau internet, setiap hari dalam waktu 1-2 bulan terakhir harus dicekoki informasi sampah yang sama sekali tidak mendidik. Sebenarnya bukan kali ini saja, tetapi sudah sering kejadian yang settingnya hampir sama seperti ini berulang untuk mengobrak-abrik nalar kita. Untungnya kita termasuk masyarakat yang dikarunia daya ingat yang rendah, sehingga memori-memori itu hanya mampir sesaat yang selanjutnya kita bisa melupakannya sama sekali.
Informasi sampah yang saya maksudkan di atas adalah tentang “pertengkaran” lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan POLRI, yang kemudian diistilahkan sebagai permusuhan antara cicak dan buaya. Dalam tahap berikutnya “perseteruan” dua lembaga ini melebar dengan melibatkan lembaga Kejaksaan Agung. Dalam hal tersebut, berita tentang “perkelaian” KPK, POLRI dan Kejaksaan Agung saya sebut sebagai informasi sampah karena tidak sedikitpun memberikan kecerdasan serta nilai tambah bagi kita. Justru sebaliknya, “perseteruan” itu – terlepas lembaga mana yang benar – telah memberikan mimpi buruk bagi kita yang sedang belajar untuk patuh hukum. Lembaga yang dibiayai dari keringat rakyat untuk mengawal hukum, justru semakin menghadirkan rasa pesimis dan apriori bagi keberlangsungan tata kelola pemerintahan yang bersih.
Filed under: Review | Ditandai: Kejaksaan Agung, korupsi, KPK, penahanan bibit dan chandra, perseteruan cicak-buaya, peseteruan KPK-Polri, Polri | Tinggalkan sebuah Komentar »
Inna lillahi wainna illahirojiuun
Dalam hari-hari menjelang hari raya Idul Fitri, kembali kita disibukkan oleh sebuah perdebatan klasik tentang kapan hari raya yang sebenarnya harus kita ikuti. Saya sebut perdebatan klasik karena memang setiap menjelang perayaan hari raya Islam yang mengkaitkan langsung dengan penanggalan selalu saja akan terjadi persoalan. Perayaan Islam yang sering memicu persoalan adalah semisal penetapan awal Ramadhan, penetapan hari raya Idul Fitri dan penetapan hari raya Idul Adha.


Pagi ini seperti biasa, sebelum aktivitas yang lebih serius saya kerjakan – kalau memang ada – saya selalu menyempatkan membuka situs berita online untuk sekadar mengupdate perkembangan informasi. Tetapi sangat jarang sekali – kalau tidak bisa disebut tidak pernah sama sekali – membuka berbagai banner kampanye capres/cawapres yang marak memenuhi kolom di situs online tersebut. Saya memang tidak tertarik melihat-lihat iklan kampanye secara lebih detail, tetapi ini bukan karena telah memiliki pilihan capres/cawapres sebelumnya, tetapi lebih pada ketidaktertarikan pada substansi iklannya yang saya paham hanya menjual sesuatu yang sebenarnya sudah terbayangkan oleh otak kita.
Kasus selebaran ‘gelap’ yang menyebut istri Cawapres Boediono beragama Katholik yang menyebar pada saat kampanye Capres Jusuf Kalla di Medan, saat ini telah menggelinding begitu jauh. Dua kubu pasangan Capres-Cawapres yang bersinggungan langsung dengan kasus tersebut, yaitu kubu SBY-Boediono dan JK-Wiranto telah membawa kasus tersebut semakin melebar, bahkan kemudian justru dijadikan objek kampanye untuk saling menyerang lawan politiknya.

